Rabu, 10 Desember 2014

MENDADAK BUKITTINGGI





---14.00---
Hari Jum’at ini kami rencananya mau jalan-jalan ke Painan. Berangkat setelah sholat Jum’at, nginap di Painan di rumahnya Andre. Tapi ternyata Andre Jum’at ini malah mau ke Padang, karena hari Sabtu dia mau ke Nyarai, Lubuk Alung sama teman kosnya di Padang. Mery pun masih di Pariaman, jadi yang ready Cuma Saya, Hanafi dan Defri.
“Napi, jadi ke Painan?”
“Anak-anak yang lain mana? Mery masih di Pariaman. Andre pun mau ke Padang.”
“Truz, gak jadi jalan-jalannya?”
“Ya mo gimana lagi.”

---16.00---
Hanafi kebetulan kemaren rental mobil buat nganter ortunya yang baru datang dari Jakarta ke Pasaman. Jadi rencananya mo dilanjutin rentalnya sampai hari Sabtu. Tapi berhubung ke Painannya di cancel dan mobil rentalnya pun baru dibalikkan Sabtu pagi, daripada nganggur, mending dibawa jalan-jalan. Hahaha dasar anak ekonomi.
“Napi, ayoklah kita ke Bukittinggi aja, gak usah nginap, main ke Jam Gadang abiz tu kita langsung cuzz Padang lagi.”
“Kita bertiga aja? (Saya, hanafi dan Defri)”
“Ajak Mery, kita jemput ke Pariaman sekalian. Kk Ied diajak juga, mana tau mau ikut.”
“Telponlah Mery”
“Okay.”
Saya langsung nelpon Mery.
“Mere, ayok ke Bukittinggi aja, kalo ke Painan kan kayaknya gak mungkin, Andre gak di rumah, kamu pun masih di Pariaman. Gimana? Nanti kami samperin ke Pariaman dhe.”
“Hmmmm gimana yak, aku ijin Nyokap dulu yah. Kamu ajak Kk Ied aja, mana tau dia mau pulkam, biar nanti sekalian ajah.”
“Okay, nanti aq telpon Kk Ied.”
Lanjut, saya nelpon Kak Ied.
“Kak  Ied dimana?”
“Lagi kuliah.”
“Pulang jam berapa? Kak Ied mau ikut ke Bukittinggi gak ?”
“Kapan? Kak Ied rencananya juga mau pulkam siy.”
“Sekarang, nah kebetulan biar nanti sekalian kita antar Kak Ied pulkam ajah.”
“Tapi Kak Ied jam 17.00 baru kelar kuliahnya”
“Gak apa-apa dhe, kami tungguin. Nanti langsung ke kantor aja yah.”
“Okay.”
Aku langsung nemui Hanafi dan Defri bilang kalo Kak Ied mau ikut juga, sekalian mau pulkam. Mereka langsung menyetujuinya. Sembari menunggu Kak Ied selesai kuliah, kami main pimpong dulu. Ternyata Defri dikalahkan Hanafi 2-1, Defri dapat hukuman push-up.

---17.00---
Kak Ied sudah sampe kantor, kami pun menyiapkan tas kerja masing-masing. Lalu Firman muncul. Dia ditawarin Hanafi dan akhirnya dia ikut kami. Nah, Mery masih gak ada kabarnya. Dapat ijin gak ya dari Nyokapnya.
Hanafi juga mengajak temannya, Singgih. Kami pun berangkat menjemput Singgih terlebih dahulu, kemudian baru menjemput Mery ke Pariaman.
Setelah sampai di kos Singgih, Kak Ied nelpon Mery, ternyata dia tidak diijinin Nyokapnya. Ya kalo emang Nyokapnya gak ijinin mo gimana lagi. Mery pun gak ikut bareng kami ke Bukittinggi malam ini.

----18.15---
Azan magrib berkumandang, kami berhenti di SPBU Lubuk Buaya. Tuk menunaikan sholat magrib, karena saya dan Kak Ied lagi berhalangan, kami menunggu di mini market dekat SPBU saja.
“Kak Ied, Diz belum ijin ke Nyokap di rumah. Udah ditelpon, tapi ndak diangkat”
“Coba telpon Adik Diz, Uli.”
“Oia, kenapa gak kepikiran tadi yah.”
tut tut tut
“Uli, mana Mama?” Uli pun langsung menyerahkan telpon ke Mama.
“Ma, Diz ke Bukittinggi yah”
“Sama siapa? Pulang jam berapa?”
“Sama teman-teman kantor. Nanti paling jam 11 malam, tapi nanti diantar kok Ma.”
“Yaudah, hati-hati di jalan ya.”
“Baik Ma, Assalammu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”

---18.30---                                                      
Setelah para lelaki menunaikan sholat Magrib, kami pun melanjutkan perjalanan ke Bukittinggi. Hanafi sebagai pilot, gak bisa diam, ada aja omongannya. Yang ledekin Defri, yang teriak-teriak gak jelas. Haha. Tapi gak apa-apa, daripada dia diem, kita juga galau. Soalnya saya pernah ngalaminya, didiemin Hanafi. Yang aslinya gokil amat, jadi aneh ajah. 

---20.30---
Jalanan lumayan rame. Tapi gak macet, jadi Cuma butuh 2 jam kami udah sampai di Jam Gadang. Hanafi langsung ngajak makan sate di depan Jam Gadang. potooo
Setelah makan, kami lanjutin muter-muter Jam Gadang, saya dan Kak Ied liat-liat baju dan jilbab. Para lelaki ngikutin di belakang. Seperti biasa, Hanafi yang gak bisa diam ituh, ngajakin ngobrol pada pedagang di sekitar Jam Gadang, biasanya yang jual yang heboh, sekarang Cuma yang nemenin pembeli yang heboh.
Kami pun menyempatkan berfoto-foto ria di Jam Gadang, ditemani Sang Badut, yang datang tak diundang, teruz maksa minta bayaran. 

dengan latar jam gadang dan gerobak bapak penjual sate

poto bareng badut dan kak ied

Kak Ied yang potoin

alach, pura-pura ga sadar kalo dipoto :p

gaya suka-suka


---22.00---
Setelah capek dan merasa cukup waktu buat muter-muternya. Kami segera melanjutkan perjalanan ke kampung Kak Ied di Padang Panjang. Butuh waktu 1.30 menit kami sampai di rumah Kak Ied. Karena kami juga mampir di Sate Soleram di Pasar Padang Panjang. Cuma kami berempat yang makan, Saya, Hanafi, Firman dan Kak Ied. Defri dan Singgih masih kenyang dan memilih tidur di mobil.

---23.30---
Sampainya di rumah Kak Ied, kamipun disuguhi teh hangat, dibuatin Nyokap Kak Ied, padahal sebelumnya secara lembut udah saya tolak, tapi mungkin Nyokap Kak Ied kasian liat kami datang tengah malam gini, jadi dibuatin yang anget-anget. Maklum Padang Panjang kan dingin. Saya paksa temen-temen yang lain agar minumannya cepat dihabisin, soalnya sekarang udah tengah malam. Nanti sampe Padang jam berapa. Haduw....
Setelah menghabiskan teh hangatnya, kami pun pamitan ke Nyokap Kak Ied dan Kak Ied. Sekarang Cuma ada saya, Hanafi, Defri, Singgih dan Firman.

---23.45---
Meskipun hampir tengah malam, di mobil tetap ribut. Saling ejek dan ledek. Kami pulang lewat Danau Singkarak, Solok. Memang lebih jauh rute pulang ini ketimbang waktu mau berangkat. Tapi kata Hanafi, masa mau jalanin jalan yang tadi lagi. Ya sudahlah, saya pasrah aja. Padahal dihati udah gak karuan, karena gak nyangka kalo jam segini masih di Padang Panjang. Alamak.
Selama diperjalanan saya gak bisa tidur, karena saya memang susah tidur kalo lagi di kendaraan, apalagi yang bawa mobilnya Hanafi, hahaha karena masih ababil jadi sedikit labil bawa mobilnya. Hahaha. Defri dan Firman suka protes kalo hanafi udah mulai gila bawa mobilnya. Tapi dengan begitu, gak ada satu pun yang bisa tidur, kecuali Singgih.

----01.30---
Akhirnya kami sampai di Kota Padang Tercinta. Saya minta dianterin ke rumah sama Defri dan Singgih, karena rumah saya agak masuk ke gang sedikit, gak bisa mobil masuk. Dan alhamdulillah saya gak dimarahi Nyokap.
Sedikit lelah, tapi senang jalan-jalan bareng teman yang hobi jalan-jalan dan gak masalah dengan waktu, mau siang mau malam, hajar ajah ayuk. Sebenarnya siy, kan juga sayang mobil rentalnya dibiarin aja nanggur ampe besok pagi. Tapi intinya, kami semua suka travelling.

---02.00---
ZZzzzzzzz tidur

ALHAMDULILLAH





Segala puji bagi Allah, atas segala karuniaNya. Alhamdulillah pagi ini disaat lagi lapar, karena sebelum ngantor ndk sempat sarapan di rumah, saya dibawain bubur ayam sama Bu Jul. Terima kasih Bu. Meskipun saya kurang suka bubur ayam, tapi nggak masalah. Hahaha. Dulu Bu Jul juga pernah bungkusin nasi uduk, sering-sering aja ya Bu. Terima kasih Allah. Rezeki datang tanda diduga.

Bubur Ayam dari Bu Jul


Setelah dapat sarapan gratis, kira-kira pukul 11.30 Bu Budi nelpon saya.
“Diz, ada di kantor?”
“Ada Bu.”
“Saya sebentar lagi ke kantor ya.”
“Baik Bu.”
Tidak lama kemudian, dari gerbang masuk Honda Jazz, waah Bu Budi udah datang, tapi membawa sebuah bungkusan.
Tok tok tok, “Gadiz”
“Ya Bu, masuk”
“Ini uang arisan saya, maaf kemarin telat.”
“Hehe, gak apa2 bu.”
“Ini makan siang buat Gadiz.” Sambil menyerahkan kantong plastik berisi nasi bungkus Lamun Ombak.
“Alhamdulillah, makasih banyak Bu. Waaah jadi enak ini. Hehehe. Repot-repot Ibu bawain Diz makan siang segala.”
“Gak apa-apa Diz, tadi saya juga mau beli buat di rumah, teruz mau mampir ke kantor, jadi saya lebihkan aja.”
“Makasiih banyak Bu. Sering-sering aja, Bu.” Sambil becanca hahaha tapi sebenernya ngarep.
“Yaudah, saya pamit dulu Diz, mau jemput Ayid sekolah dulu.”
“Baik Bu, hati-hati dijalan.”
“Assalammu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Padahal semalam gak ada mimpi apa-apa. Tapi banyak dapat rezeki hari ini, Alhamdulillah Ya Allah.
 Fa-biayyi alaa’i Rabbi kuma tukadzdzi ban (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?)

Nasi Bungkus dari Bu Budi




Selasa, 09 Desember 2014

MENUJU PUNCAK "MERAPI 2891 MDPL DAN KERINCI 3805 MDPL"



Saya cuma ingin re-publish tulisan teman2 saya ketika muncak dulu, (maklum males nulis, hahaha karena ceritanya bakalan sama aja kok). Kami menamakan kelompok kami dengan nama "MENUJU PUNCAK". Tim menuju puncak ini adalah Aderva Adiba Bahas, Hanafi, Defrinaldi, Andre Setiawan, Mery Sae, Fitri Ramfauza dan saya sendiri Rindi Silvia. Misi kami yang pertama adalah Gunung Merapi di Padang Panjang Sumatera Barat pada tanggal 05 Mei 2014 (ceritanya dapat baca disini dan disini).

andre, hanafi, saya, bg ade, kak ied, defri dan mery di gunung merapi

saya, dibelakang ada penampakan mery dan kk ied

 
Setelah menyelesaikan misi pertama, kami melanjutkan misi ke Gunung Kerinci 3805 mdpl di Kerinci – Jambi, pada tanggal 01 Agustus 2014. Teman-teman dapat melihat cuplikan perjuangan kami menaklukan Gunung Kerinci yang di upload teman saya Hanafi disini dan dapat membaca dari tulisan teman saya Andre Setiawan disini .

di puncak gunung kerinci

andra, singgih, saya, mery, hanafi, andre, bg ade yang motoin dadep di gunung kerinci