Senin, 30 Oktober 2017

Surat dari Shimla di Surga

"Surat Dari Surga"

Dear Bunda..
Hari ini Tuhan memberikan aku
selembar kertas putih..
Tuhan bilang Bundaku sedang merindukanku..
Maka Tuhan memintaku untuk menulis
surat untukmu..
Aku menulis surat ini sambil
membayangkan wajah cantikmu.. Aku ingin memberitahukan Bunda bahwa aku disini baik baik saja..
Di sini aku tidak sendiri Bunda..
Di sini juga tidak sempit dan tidak
gelap.. Aku di sini bersama teman temanku..
Kami bermain di tempat yang sangat indah, luas dan tak pernah ada malam..
Kami tidur di kasur yang empuk..
Dininabobokan dan dibelai oleh
bidadari surga..
Nyamaan sekali..sama seperti saat aku
berada diperut Bunda.. Tapi akhir2 ini aku merasa sedih, aku
melihat Bundaku masih sering
menangis..
Bunda sangat rindu ya sama aku.. Di sini aku meminta kepada Tuhan
agar Ia segera memberikan Bunda adik untukku..
Agar bunda di sana ada teman..
Agar bunda bisa tertawa kembali dan
melupakanku.. Jika dengan mengingatku Bunda
menitikan air mata, maka aku lebih baik Bunda lupakan..
Aku sayang Bunda.. Jika Bunda membaca suratku ini aku
ingin Bunda tersenyum, karena senyum Bunda yang aku rindukan..
Jangan bersedih..
Aku sudah sangat bahagia disini.. Karena aku telah menyimpan sebuah
hadiah terindah untuk Ayah Bunda..
Hadiah yang akan aku persembahkan
jika saatnya tiba..
Hadiah ini ditawarkan Tuhan saat aku digerbang surga.
Tuhan bilang aku boleh
memilih..kembali kepada orangtuaku
atau hadiah itu..
Karena aku sangat sayang Ayah
Bunda, maka aku memilih hadiah tersebut..
Hadiah ini lebih berharga dari jiwaku..
Akan kusimpan baik2 hadiah ini
sebuah kertas kecil bertuliskan "Tiket
Surga untuk Ayah dan Bunda"

Tersenyumlah bunda.. Berbahagialah..
Hadiah ini sangat pantas
kupersembahkan untuk kalian
orangtua yang pernah memberikan
aku cinta bahkan sampai detik ini..
Terima kasih terima kasih tak akan cukup..
Namun tetap kuucapkan terima kasih
untuk segala daya dan upaya dalam
menjagaku sewaktu itu.. Hmmmm...
Sudah dulu yah Bunda.. Teman temanku mau mengajakku
bermain..
Bunda tersenyum donggg...
Aku sayang Bunda dan Ayah..
Peluk cium dari ananda..

Jumat, 20 Oktober 2017

Rindu Tak Bertepi

 
 
Hallo Shimla anakku sayang...apa kabar di sana Nak? Semalam Ibu rindu banget sama Shimla. Rencananya Sabtu ini Ibu dan Ayah mau mengunjungi Shimla, jadi Ibu kepikiran mau bikin Papan Nisan untuk makam Shimla, jadinya Ibu browsing ditemenin Ayah. Eh setelah lama-lama browsing kok jadi sedih, ibu jadi kepikiran Shimla terus, pengen ketemu, pengen peluk dan cium tapi gak bisa. Gantinya Ibu peluk Ayah aja sambil nangis. Maaf ya Nak, bukannya ibu gak ikhlas atau belum terima yang ditakdirkan Allah, ini cuma rindu seorang Ibu kepada anaknya. 
 
Ayah nasehatin Ibu jangan sedih terus, toh Shimlanya udah bahagia di sana, dari tulisan yang Ibu baca, kalau ada anak-anak yang meninggal, akan diasuh oleh Nabi Ibrahim. Ditambah lagi nanti anak yang meninggal (sebelum usia baligh) bisa membawa Ayah dan Ibunya ke surga. Jadi sebenernya buat apa sedih, anaknya udah senang di sana di jagain Nabi, kelak orangtuanya juga bakal di bawa ke surga. Namanya kami manusia Nak, ada perasaan rindu, apalagi Shimla buah hati pertama Ayah dan Ibu yang udah kami nantikan. Apalagi Mbah di Lampung sana, udah senang bakal dapat cucu perempuan, karena Ayah saudaranya laki-laki semua, kalau Shimla ada bakal jadi primadona di sana.
 
Ayah juga berpesan, pasti rencanaNya lebih baik daripada manusia. Dia Maha Tahu yang terbaik untuk umatNya. Doakan kami ya Nak, supaya dijauhkan dari dosa biar nanti di Yaumul Mizannya cepat dan bisa segera ketemu Shimla. Doakan kami semoga selalu husnuzhon dan tegar atas takdir Allah. Dan jangan lupa doakan Ibu juga segera hamil adeknya Shimla ya, biar Ibu dan Ayah gak kesepian lagi, kalau bisa perempuan juga.

Alhamdulillah, Shimla pasti bangga punya Ayah Danubrata. Ibu juga beruntung punya suami seperti Ayah Shimla. Dia selalu ada disamping Ibu, selalu siap menguatkan Ibu. Dia selalu terlihat tegar meskipun sesekali Ayah juga nangis kalo kangen Shimla. Sejak awal hamil, Ayah selalu menemani ibu kontrol ke dokter, pijetin ibu, buatin susu, ingetin minum vitamin. Sampai waktu lahiran Ayah juga selalu disamping Ibu, rela begadang nungguin kontraksi, juga rela tangannya ibu remas-remas karena nahan sakit pas pembukaan. Sampai Shimla lahir ke dunia, Ayah juga yang urusin ketika harus di rujuk ke Rumah Sakit, karena bidannya udah nyerah. Dan ketika Dokter memvonis Shimla udah gak ada, ayah sempat cerita kalau dia shock sesaat, dunia berasa berenti berputar.

Sampai di rumah Bidan, Ayah gak langsung menghampiri Ibu, dia gak sanggup bilang ke Ibu kalau Shimla gak tertolong. Ibu bingung, lho suaranya ada tapi kok gak nongol-nongol kasih kabar ke Ibu gimana kondisi anaknya. Akhirnya Bu Bidan yang bilang ke Ibu kalau Shimlanya udah duluan ke surga. Ibu sedih, belum sempat lihat mata kamu, denger suara kamu, peluk kamu, eh kamunya udah kembali ke sisi-Nya. Tapi ibu gak nangis, berasa mimpi, masih bingung ini nyata atau bukan.

Setelah dirundingkan Ayah dengan keluarga sepakat Shimla dimakamkan di Kampung Ibu, di Balingka - Agam. Semuanya berangkat kecuali Nenek. Nenek tinggal nemenin ibu di rumah bidan. Para tetangga berdatangan, ikut berbela sungkawa juga temen-temen kerja Ibu dan Ayah. Semua masih terasa belum nyata. Ibu masih belum percaya Nak kamu sudah tiada.

Mungkin karena Ibu menahan duka, sedih, Ibu drop hari ke-3 pascalahiran. Dan segera dirujuk ke RSUP M. Djamil Padang, karena RSIA Cicik gak sanggup. Mendengar cerita dari Ayah, Ibu sempat gak sadarkan diri waktu dibawa ke RSIA siangnya. Malamnya Ibu mulai sadar ketika sudah masuk ruangan HCU di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Jangan ditanya secemas apa keluarga lihat kondisi ibu saat masih belum sadar. Sampai Ayah bilang, dia gak bisa bayangin kalau Ibu kritis dan gak bisa selamat. Betapa sedihnya dia, 2 hari yang lalu ditinggal anak, eh sekarang juga ditinggal istri. Alhamdulillah, Ibu masih dikasih nikmat hidup sama Allah. Ibu Dirawat selama 4 hari di RSUP dengan diagnosis HELLP SYNDROME.

Bagi Ibu, Ayah itu "The best husband in the world". Selalu pengertian, perhatian dan juga romantis. Tidak sedikit teman-teman Ibu yang iri melihat perlakuan Ayah ke Ibu. Mereka bilang "Dis, suaminya so sweet banget ya, jadi pengen punya suami kayak gitu". Didalam hati Ibu bersyukur dijodohkan Allah dengan Ayah Shimla.

Apalagi saat ibu kritis di rumah sakit kemarin, Ayah yang ngurusin semuanya. Mulai dari urus administrasi, tanyain kondisi ke dokter, suapin makan, siapin obat, mengosongkan plastik kateter bahkan sampe mengganti ***balut nifas Ibu juga Ayah. Ayah gak pernah ngeluh. Tapi Ayah gak pernah kelihatan cemas atau sedih waktu Ibu dirawat, Ibu pun heran, kalau kondisi Ibu gak gawat kenapa sampai di HCU dirawatnya. Hebatnya Ayah, dia bisa menyembunyikan semua sedih, cemas, takut didepan Ibu, karena khawatir nanti Ibu kepikiran dan malah lama sembuhnya. Terima Kasih ya Yah atas semua perhatian dan pengertian selama ini. Sayang Ayah.

Shimla bahagia terus di sana ya Nak. Kami selalu mendoakan kamu di sini.
 
 
 
Padang, 20 Oktober 2017 (2 bulan 21 hari setelah Shimla pergi).
 
 

Jumat, 29 September 2017

Ulang Bulan

 

 
 
 
Selamat ulang bulan ke-2 Shimla Sayang
 
Ada banyak cara untuk menyampaikan Rindu, dan mendoakan adalah cara terbaik yang kami pilih, sebelum meninggalkan makam Shimla hari itu, saya berbisik pelan, "Shimla sayang, tunggu kami ya nak dipintu Syurga :')"

Kamis, 13 Juli 2017

Allah is Always With Us


Dalam hidup, akan datang dua sisi kehidupan di mana Allah sedang menunjukkan kasih sayangnya. Ntah itu dalam bentuk kebahagiaan atau kesedihan. Dua-duanya tanda Allah sayang, dua-duanya menentukan kita untuk bersikap. Bagaimana menyikapi kebahagiaan, bagaimana menyikapi kesedihan...

Hal paling sulit adalah menyikapi sisi gelap. Mencari-cari cahaya Allah di tengah kegelapan pekat; tersandung batu tak terlihat, terjatuh karena menabrak batang pohon besar yang tak tampak oleh kedua mata, meraba-raba sekeliling untuk mencari pegangan dalam kegelapan...

Berada di sisi gelap itu sama halnya seperti menyikapi banyak orang yang melontarkan pertanyaan menyakitkan hanya karena rasa penasaran, menerima tuduhan-tuduhan yang tak berdasar hanya karena mereka merasa lebih tahu, terjatuh lagi sedemikian parah karena merasa sendiri tak ada yang memahami. Lupa bahwa Allah ada, lupa jika tidak ada orang lain yang bisa kau genggam, ada Allah yang bisa kau genggam. Kau berhenti mencari cahaya-Nya, lalu memutuskan bertahan dalam kegelapan, terpuruk jatuh. Terluka selamanya...

Menjadi tetap anggun dalam menyikapi segala masalah itu butuh ditempa, latihan terus menerus. Menjadi pribadi yang selalu berprasangka baik kepada Allah juga perlu latihan tanpa henti. Ingatlah bahwa Allah sedang menaikkan derajatmu. Kau tidak sendiri, ada Allah di sisi-Mu. Menunggu kau meminta perlindungan-Nya, menunggu kau percaya kepada-Nya secara utuh untuk menyelesaikan masalahmu dan mengobati kesedihanmu. Tahu tidak, mengapa masalahmu selalu terasa sangat berat seolah tak ada jalan keluar?

"Karena kau tidak percaya kepada-Nya secara utuh, kemudian berhenti mencari secercah cahaya teduh-Nya. That's why."


By : Nadhiraarini