Jumat, 20 Oktober 2017

Rindu Tak Bertepi

 
 
Hallo Shimla anakku sayang...apa kabar di sana Nak? Semalam Ibu rindu banget sama Shimla. Rencananya Sabtu ini Ibu dan Ayah mau mengunjungi Shimla, jadi Ibu kepikiran mau bikin Papan Nisan untuk makam Shimla, jadinya Ibu browsing ditemenin Ayah. Eh setelah lama-lama browsing kok jadi sedih, ibu jadi kepikiran Shimla terus, pengen ketemu, pengen peluk dan cium tapi gak bisa. Gantinya Ibu peluk Ayah aja sambil nangis. Maaf ya Nak, bukannya ibu gak ikhlas atau belum terima yang ditakdirkan Allah, ini cuma rindu seorang Ibu kepada anaknya. 
 
Ayah nasehatin Ibu jangan sedih terus, toh Shimlanya udah bahagia di sana, dari tulisan yang Ibu baca, kalau ada anak-anak yang meninggal, akan diasuh oleh Nabi Ibrahim. Ditambah lagi nanti anak yang meninggal (sebelum usia baligh) bisa membawa Ayah dan Ibunya ke surga. Jadi sebenernya buat apa sedih, anaknya udah senang di sana di jagain Nabi, kelak orangtuanya juga bakal di bawa ke surga. Namanya kami manusia Nak, ada perasaan rindu, apalagi Shimla buah hati pertama Ayah dan Ibu yang udah kami nantikan. Apalagi Mbah di Lampung sana, udah senang bakal dapat cucu perempuan, karena Ayah saudaranya laki-laki semua, kalau Shimla ada bakal jadi primadona di sana.
 
Ayah juga berpesan, pasti rencanaNya lebih baik daripada manusia. Dia Maha Tahu yang terbaik untuk umatNya. Doakan kami ya Nak, supaya dijauhkan dari dosa biar nanti di Yaumul Mizannya cepat dan bisa segera ketemu Shimla. Doakan kami semoga selalu husnuzhon dan tegar atas takdir Allah. Dan jangan lupa doakan Ibu juga segera hamil adeknya Shimla ya, biar Ibu dan Ayah gak kesepian lagi, kalau bisa perempuan juga.

Alhamdulillah, Shimla pasti bangga punya Ayah Danubrata. Ibu juga beruntung punya suami seperti Ayah Shimla. Dia selalu ada disamping Ibu, selalu siap menguatkan Ibu. Dia selalu terlihat tegar meskipun sesekali Ayah juga nangis kalo kangen Shimla. Sejak awal hamil, Ayah selalu menemani ibu kontrol ke dokter, pijetin ibu, buatin susu, ingetin minum vitamin. Sampai waktu lahiran Ayah juga selalu disamping Ibu, rela begadang nungguin kontraksi, juga rela tangannya ibu remas-remas karena nahan sakit pas pembukaan. Sampai Shimla lahir ke dunia, Ayah juga yang urusin ketika harus di rujuk ke Rumah Sakit, karena bidannya udah nyerah. Dan ketika Dokter memvonis Shimla udah gak ada, ayah sempat cerita kalau dia shock sesaat, dunia berasa berenti berputar.

Sampai di rumah Bidan, Ayah gak langsung menghampiri Ibu, dia gak sanggup bilang ke Ibu kalau Shimla gak tertolong. Ibu bingung, lho suaranya ada tapi kok gak nongol-nongol kasih kabar ke Ibu gimana kondisi anaknya. Akhirnya Bu Bidan yang bilang ke Ibu kalau Shimlanya udah duluan ke surga. Ibu sedih, belum sempat lihat mata kamu, denger suara kamu, peluk kamu, eh kamunya udah kembali ke sisi-Nya. Tapi ibu gak nangis, berasa mimpi, masih bingung ini nyata atau bukan.

Setelah dirundingkan Ayah dengan keluarga sepakat Shimla dimakamkan di Kampung Ibu, di Balingka - Agam. Semuanya berangkat kecuali Nenek. Nenek tinggal nemenin ibu di rumah bidan. Para tetangga berdatangan, ikut berbela sungkawa juga temen-temen kerja Ibu dan Ayah. Semua masih terasa belum nyata. Ibu masih belum percaya Nak kamu sudah tiada.

Mungkin karena Ibu menahan duka, sedih, Ibu drop hari ke-3 pascalahiran. Dan segera dirujuk ke RSUP M. Djamil Padang, karena RSIA Cicik gak sanggup. Mendengar cerita dari Ayah, Ibu sempat gak sadarkan diri waktu dibawa ke RSIA siangnya. Malamnya Ibu mulai sadar ketika sudah masuk ruangan HCU di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Jangan ditanya secemas apa keluarga lihat kondisi ibu saat masih belum sadar. Sampai Ayah bilang, dia gak bisa bayangin kalau Ibu kritis dan gak bisa selamat. Betapa sedihnya dia, 2 hari yang lalu ditinggal anak, eh sekarang juga ditinggal istri. Alhamdulillah, Ibu masih dikasih nikmat hidup sama Allah. Ibu Dirawat selama 4 hari di RSUP dengan diagnosis HELLP SYNDROME.

Bagi Ibu, Ayah itu "The best husband in the world". Selalu pengertian, perhatian dan juga romantis. Tidak sedikit teman-teman Ibu yang iri melihat perlakuan Ayah ke Ibu. Mereka bilang "Dis, suaminya so sweet banget ya, jadi pengen punya suami kayak gitu". Didalam hati Ibu bersyukur dijodohkan Allah dengan Ayah Shimla.

Apalagi saat ibu kritis di rumah sakit kemarin, Ayah yang ngurusin semuanya. Mulai dari urus administrasi, tanyain kondisi ke dokter, suapin makan, siapin obat, mengosongkan plastik kateter bahkan sampe mengganti ***balut nifas Ibu juga Ayah. Ayah gak pernah ngeluh. Tapi Ayah gak pernah kelihatan cemas atau sedih waktu Ibu dirawat, Ibu pun heran, kalau kondisi Ibu gak gawat kenapa sampai di HCU dirawatnya. Hebatnya Ayah, dia bisa menyembunyikan semua sedih, cemas, takut didepan Ibu, karena khawatir nanti Ibu kepikiran dan malah lama sembuhnya. Terima Kasih ya Yah atas semua perhatian dan pengertian selama ini. Sayang Ayah.

Shimla bahagia terus di sana ya Nak. Kami selalu mendoakan kamu di sini.
 
 
 
Padang, 20 Oktober 2017 (2 bulan 21 hari setelah Shimla pergi).
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar