Selasa, 12 April 2016

Antara Kita

Berayun angan...tersipu malu ketika kau membawaku berayun
Angan-angan kecilku berlari berkeliling taman
Impian bak putri kerajaan hilang dalam hutan impian
Akankah kau tetap bertahan?

Aku mulai merebahkan tubuh diatas bumi yang dialasi permadani hijau
Begitu dengan logikaku yang pada akhirnya berlayar pada hamparan biru laut asa
Akankah kau menjadi sosok pertama sebagai tempat logikaku berlayar dan tertambat (untuk seterusnya?)

Seringkali aku ingin berjalan-jalan menelusuri isi hatimu,
hanya untuk mencari jawaban atas tanya yang menjejali pikirakanku akhir ini
Adakah namaku di relung hatimu dan menjadi yang pertama dan seterusnya?

Hai kau wanita diantara pohon yang menjulang
Kau nampak dalam penantian
Mencari rangkaian fakta sebagai satu paket tanya dan jawab
Kau nampak dalam harapan
Berkhusnudzon dalam setiap aliran masa yang melewati doa
Bukankah harapan terbaik adalah yang selalu tersimpan
laksana bongkahan batu yang pada akhirnya menjadi berlian karena digali oleh orang terbaik?

Tuan, ini bukan masalah penantian, ini masalah keyakinan.
Aku terlalu meyakini, Tuhan hanya sedang menguji, bukankah Tuhan Maha Menepati dan tidak pernah ingkar janji?
Bersabar penuh keikhlasan yang perlu dijalani sembari menunggu hadiah terindah dari Illahi

Jawaban terbaik akan selalu hadir seiring kerelaan pada-Nya
Tadi kau sempat bertanya apakah ada namamu di hatiku?
Kenapa tidak kau tanya secara langsung?
Agar kuceritakan dengan ria tentangmu.

Kuberitahu sebelumnya, yang kau baca ini mungkin rasanya berlebihan.
Membacanya kelak mungkin akupun juga tertawa hingga serak
Bukannya aku tidak ingin bertanya secara langsung, aku cuma takut
Takut tak ada lagi angin yang mendekatkan kapalmu ke dermagaku
Takut jika tau semua ini cuma harapku.
Begitu

Akupun begitu. Tetap hening tak berkata apa tentang hati
Hanya melalui lirik, hanya melalui majas, hanya melalui kiasan
Ada cemas, apakah arus tetap membawa kapalku padamu?
Atau bagaimana nantinya?

Yasudahlah, tidak usah kau terlalu cemas, kalaupun memang tidak,
aku hanya perlu segera berkemas, sesederhana itu.

Sebenarnya tidak ada yang perlu berkemas.
Yang perlu adalah bertahan dan memastikan bahwa kapal ini menuju arah yang benar.

Perihal berlayar, biarlah Tuhan yang menentukan arah angin
apakah Dia akan menepikan kapalmu di dermagaku atau tidak
Sebab diujung cerita kita akan tau,
apakah kita akan saling menunggu dan bertahan, atau
malah pergi dan meninggalkan
Apa-apa yang dianggap benar, belum tentu ujungnya baik.
Namun kalau kita menjaga kebaikan, lama-lama kita akan mendapatkan kebenaran.
Jadi mari saling menjaga dalam kebaikan.

Kita hanya perlu menjalani proses yang indah ini
Melakukan dan melanjutkan hal baik dari apa yang sudah kita mulai

Karena berjuang mencapai impian itu indah.
Bagaimana ikhtiar terbaik dilakukan
agar mendapatkan apa yang diinginkan, dan selalu menyisipkan doa-doa dan cita-cita
kepada Tuhan, agar Tuhan meridhai usaha dan impian
Baiklah mari kita nikmati saja prosesnya

Bahwa melewati saat-saat seperti ini akan menjadi sejarah hidup dan teringat sepanjang masa.
Bahwa dalam realita seperti ini mengajarkan kedewasaan, kerelaan hati dan pasrah terhadap hasil

Secara pasti aku merasakan arti sebuah kepasrahan.
Menikmati alur Tuhan yang telah digariskan.
Mencoba bertahan dan menahan tangisan.
Karena aku percaya akan ada sinar kebahagiaan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar